Syarat Memandikan Jenazah dalam Islam

Syarat Memandikan Jenazah dalam Islam

Syarat memandikan jenazah meliputi penyelenggaraan jenazahnya, Syarat orang yang memandikan dan syarat yang dimandikan, apa saja? Kali ini kami dari penyedia keranda jenazah stainless yajni Rajane KerandaMayat Srainless yang menjual dengan harga keranda mayat yang bersaig akan memberian ulasannya.

syarat memandikan jenazah
Source: unsplash.com

Memandikan jenazah adalah salah satu kewajiban sesama Muslim dalam penyelenggaraan jenazah. Hukumnya fardu kifayah, apabila sudah ditunaikan oleh sebagian orang maka gugurlah kewajiban yang ada pada Muslim lainnya. 

Syarat memandikan jenazah didasarkan pada aturan sunnah. Bukan hanya syarat penyelenggaraannya, orang yang memandikan dan jenazah yang dimandikan pun diatur.

Kewajiban memandikan jenazah didasarkan pada hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Suatu ketika ada seseorang yang meninggal karena terjatuh dari untanya, lalu Rasulullah bersabda, “Mandikanlah ia dengan menggunakan air dan juga daun bidara.” (HR. Bukhori No 1265, dan Muslim No 1206).

Syarat Memandikan Jenazah dalam Islam

Penyelenggaraan memandikan jenazah sebaiknya mengikuti aturan sunnah yang telah ditetapkan dalam Islam. Beberapa hal yang penting diperhatikan terkait penyelenggaraan mandi untuk jenazah di antaranya:

1. Dilakukan Oleh Orang yang Berhak

Dalam Islam orang yang paling berhak untuk memandikan jenazah adalah orang yang diberi wasiat sebelumnya oleh si jenazah saat masih hidup untuk memandikan dirinya. Apabila tidak ada orang yang diberi wasiat maka yang paling berhak adalah yang paling dekat hubungannya.

Bila jenazah itu perempuan maka yang berhak memandikannya adalah ibunya, neneknya, saudara perempuan kerabat atau suaminya. Bila jenazah tersebut laki-laki maka yang berhak memandikan adalah ayahnya, kakek, saudara laki-laki atau isterinya. Suami istri diperbolehkan memandikan masing-masing pasangannya.

2. Dilakukan di Tempat  yang Terlindung dari Pandangan Umum

Memandikan jenazah hendaknya dilakukan di tempat yang tidak bisa dilihat oleh yang tidak berhak. Jauh dari umum atau dilindungi agar tidak bisa dilihat orang yang tidak memiliki kepentingan. Mengapa demikian?

Salah satu hikmahnya agar tidak ada aib yang tersebar dari jenazah yang dimandikan. Mereka yang memandikan adalah orang yang terdekat hubungannya dengan jenazah atau yang memiliki syarat dan ketentuan khusus sehingga amanah dalam memandikan.

3. Sesuai Aturan Sunnah

Cara memandikan jenazah sesuai sunnah bisa Anda pelajari tutorialnya di kajian-kajian online ustadz melalui youtube atau belajar langsung di pelatihan-pelatihan tatap muka yang sering diselenggarakan majelis taklim.

Aturan wajib memandikan jenazah adalah cukup menyiramnya satu kali baik dengan air bersih, sabun atau kapur barus. Jumlah bilangan sesudahnya adalah sunnah dan tetap dalam hitungan bilangan ganjil penyiraman yakni 3, 5, 7 dan seterusnya tergantung kebutuhan.

Syarat Orang yang Memandikan Jenazah

Syarat orang yang memandikan jenazah juga perlu diperhatikan sebab tidak semua orang memiliki hak untuk memandikannya. Berikut ini beberapa syarat penting bagi Anda yang ingin memandikan jenazah:

1. Muslim

Orang selain Muslim tidak dibenarkan dan tidak memiliki hak untuk memandikan saudaranya yang Muslim, walaupun secara nasab adalah satu darah.

2. Baligh

Orang yang memandikan jenazah hendaknya sudah baligh sehingga mengerti tata cara penyelenggaraan jenazah yang sesuai dengan sunnah.

3. Berakal

Orang yang memiliki masalah dengan pikiran, akal, gangguan pikiran dan sebagainya sebaiknya tidak memandikan jenazah. Orang yang sehat berakal adalah menjadi syarat untuk memandikan jenazah.

4. Berniat

Memandikan jenazah harus didasari dengan niat dan kemauan sebagai bagian dari melaksanakan kewajiban atas penyelenggaraan jenazah. Hukum penyelenggaraan ini adalah wajib kifayah maka pahala pun akan didapatkan dengan niat melakukan amal memandikan jenazah.

5. Amanah dan Terpercaya

Orang yang memandikan jenazah hendaknya memiliki sikap amanah dan terpercaya dalam menunaikan tugasnya. Tidak mengumbar air jenazah pada saat dimandikan sebab berdosa hukumnya menyebarkan aib tersebut.

Amanah dalam memandikan sesuai dengan aturan sunnah yang benar. Memilih orang terpercaya untuk memandikan adalah hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi tersebarnya aib-aib jenazah bila dilakukan oleh mereka yang tidak amanah.

6. Memahami Tata Cara Aturan Memandikan Jenazah

Mereka yang memandikan jenazah adalah orang yang memahami aturan dan tata cara memandikan jenazah sesuai dengan aturan sunnah yang benar. Bila sebelumnya tidak tahu, maka bisa dipelajari langkah-langkah memandikan jenazah yang banyak tersebar tutorialnya di youtube atau kajian-kajian online oleh ustadz.

Syarat Jenazah yang Dimandikan

Bukan hanya orang yang dimandikan, jenazah yang dimandikan pun ada syaratnya. Apabila syarat tersebut tidak terpenuhi pada jenazah maka penyelenggaraan memandikan jenazah bisa ditiadakan:

1. Jenazah Muslim

Syarat jenazah yang dimandikan sesuai aturan sunnah adalah jenazah orang Muslim. Bila jenazah tersebut kafir maka tidak berlaku kewajiban memandikan jenazah tersebut. Jadi baik yang memandikan maupun jenazah yang dimandikan harus sama-sama Muslim.

2. Tidak Dalam Kondisi Mati Syahid

Mereka yang gugur sebagai syuhada tidak dimandikan. Dalam sejarah peperangan Uhud misalnya, para sahabat yang syahid pada saat itu tidak dimandikan. Mereka dimakamkan dengan luka-luka dan darah yang ada padanya. Semua itu akan menjadi saksi di hadapan Allah swt.

3. Ada Bagian Tubuh yang Tersisa

Memandikan jenazah tidak harus dalam keadaan jasad yang utuh. Apabila jenazah dalam keadaan tidak utuh, misalnya karena kecelakaan sehingga hilang atau hancur sebagian tubuhnya, yang dimandikan cukup bagian tubuh yang tersisa. Kewajiban memandikan tetap ada selama masih ada bagian tubuh yang tersisa.

4. Bukan Janin yang Keguguran

Penting diketahui bahwa janin yang mati dalam keadaan keguguran tidak berlaku kewajiban memandikannya.

5. Ada Orang yang Berhak Memandikan

Apabila jenazah perempuan berada pada lingkungan laki-laki yang tidak ada perempuan di tempat tersebut dan perempuan tersebut tidak memiliki suami, atau jenazah laki-laki berada pada lingkungan perempuan dan tidak ada laki-laki di tempat tersebut sementara jenazah ini tidak memiliki istri, maka tidak berlaku kewajiban memandikan, hanya ditayamumkan.

Kedudukan kondisi ini sama dengan ketika tidak ditemukannya air untuk memandikannya, maka cukup dengan penyelenggaraan tayamum saja.

Secara teknis perlu dipersiapkan berbagai alat dan bahan-bahan untuk memandikan jenazah, di antaranya adalah:

Cara memandikan jenazah dilakukan sesuai sunnah dengan urutan dan niat yang sudah ditentukan. Pada akhir penyelenggaraan pemandian dilakukan wudhu pada jenazah sebagaimana wudhu yang dilakukan manusia hidup.

Bagi mereka yang selesai memandikan jenazah  maka disunahkan juga untuk mandi agar lebih bersih dan nyaman. Sedangkan bagi mereka yang akan mengangkat jenazah disunahkan pula untuk menunaikan wudhu terlebih dahulu.

Ada ketentuandalam memandikan jenazah. Source ThejakartaPost.Com

Apakah Anda pernah memandikan jenazah? Memang seringnya orang takut dan tidak berani melaksanakannya padahal memandikan jenazah adalah satu dari empat kewajiban atas jenazah. Mereka yang memandikan jenazah biasanya sudah ditentukan, orang-orang tua yang sudah sering mendapatkan pelatihan. Padahal hal ini tidak tepat.

Belajar memandikan jenazah ternyata perlu dilakukan oleh semua orang sebab mereka yang berhak memandikan adalah mereka yang paling dekat kerabatnya dengan yang meninggal. Bukankah semua kita memiliki kerabat? Maka belajar memandikan menjadi hal yang perlu dilakukan.

Setelah memenuhi semua syarat memandikan jenazah di atas, Anda bisa langsung belajar praktiknya untuk dilakukan bilamana kondisi telah tiba.

Syauqi Muhammad Najmi

Adalah seorang penulis di Rajane Keranda. Lulusan pondok yang terjun ke dunia digital marketing dan ingin membuktikan bahwa santri bisa jadi apapun. Yang terpenting jangan lupa berdakwah !

Leave a Reply