Pengurusan Jenazah Sesuai Fiqih Dalam Islam

Pengurusan Jenazah Sesuai Fiqih Dalam Islam

Masih banyak yang belum menguasai tata cara pengurusan jenazah yang benar sesuai syariat. Seperti apa tahapan pengurusan jenazah sesuai fiqih dalam islam?

pengurusan jenazah sesuai fiqih
Source: pixabay.com

Pengetahuan mengenai pengurusan jenazah menurut fiqih dalam Islam kondisinya sangat mirip dengan ilmu waris. Hanya sedikit orang yang menguasai dan memahami cara-cara serta dapat mempraktikkannya.

Padahal kedaruratan ilmu ini sangatlah nyata, mengingat setiap hari pasti ada orang yang meninggal dunia. Ini membuat ilmu mengenai tata cara mengurus jenazah perlu disebarluaskan.

Lalu bagaimana pengurusan jenazah yang benar dalam Islam?

Pengurusan Jenazah Sesuai Fiqih

Semua ajaran Islam pada dasarnya adalah untuk memuliakan manusia. Mulai dari sejak proses penciptaan, kelahiran, hingga kematian manusia. Begitu pula tata cara dan proses pengurusan jenazahnya.

Hak Jenazah dalam Islam

Setiap jenazah memiliki hak untuk diurus. Yang mana hak tersebut wajib dilaksanakan oleh orang-orang yang bertinggal di sekitar tempat jenazah tersebut meninggal.

Manakala hak tersebut dipenuhi,walau hanya oleh beberapa orang, maka semua orang yang tinggal di situ dianggap telah menunaikan kewajiban mereka.

Sebaliknya, jika tidak ada seorang pun yang mengurus jenazah tersebut, maka semua orang di wilayah tersebut menanggung dosa pengabaian tersebut. Maka dari dalam Islam, pengurusan jenazah hukumnya adalah fardu kifayah.

Lalu apa saja hak jenazah dalam Islam? Ada 4, yaitu.

  1. Dimandikan
  2. Disolatkan
  3. Dikafani
  4. Dikuburkan.

Dan keempat hal tersebut disunnahkan untuk dikerjakan dengan segera.

Memandikan Jenazah

Proses pengurusan jenazah pertama adalah memandikan.

Memandikan jenazah sebaiknya dilakukan di tempat yang tertutup dinding atau sekat, tapi tidak dalam ruang sempit. Karena untuk memandikan jenazah akan butuh tenaga beberapa orang.

Siapa saja orang yang diperkenankan secara syariat untuk memandikan jenazah tersebut?

Mereka yang memenuhi 5 persyaratan berikut: muslim, akil baligh, mampu, paham tata cara dan adabnya, serta amanah (bukan penggosip/pengumbar aib).

Persyaratan lainnya adalah berdasarkan urutan hak memandikan, yaitu:

  1. Suami/Istri
  2. Saudara atau kerabat yang sejenis (jika jenazah laki-laki, yang memandikan laki-laki, dan sebaliknya)
  3. Orang lain tanpa hubungan saudara yang sejenis.
  4. Mahram (lawan jenis yang dilarang untuk menikahi atau dinikahi karena hubungan keluarga)

Karena merupakan urutan hak, maka diutamakan mulai dari urutan pertama dan kedua. Kecuali jika yang urutan atasnya tidak sanggup atau tidak ada, maka boleh dilimpahkan ke selanjutnya.

Lalu bagaimana tata cara memandikan jenazah yang sesuai dengan tuntunan agama Islam?

  1. Baringkan jenazah di atas Tempat Pemandian Jenazah dengan posisi kepala diberi bantalan agar lebih tinggi. Pejamkan mata jenazah jika masih terbuka.
  2. Ucapkan niat memandikan jenazah, boleh secara sirr atau jahar.
  3. Pakai sarung tangan untuk menjaga kebersihan selama proses memandikan.
  4. Jika mendapati kuku jenazah panjang, potong dan rapikan terlebih dahulu.
  5. Buka atau lepaskan pakaian jenazah. Kalau sulit, boleh digunting saja, tapi kerjakan dengan hati-hati. 

Demikian juga untuk semua proses yang berhubungan dengan jenazah, harus dilakukan dengan lembut dan hati-hati.

  1. Tutup aurat jenazah dengan selembar kain, antara dada sampai lutut. 

Untuk proses membersihkan anggota tubuh, lakukan di balik kain tersebut tanpa melihat.

  1. Bagian-bagian yang penting untuk dibersihkan terlebih dahulu adalah rambut (keramasi), gigi, lubang telinga dan hidung, serta sela-sela jari. Dilanjutkan bagian ketiak dan selangkangan.
  2. Untuk mengeluarkan kotoran yang mungkin masih ada di perut, urut lembut perut dari atas ke bawah agar kotoran keluar. Basuh dengan air sampai bersih.
  3. Siramkan air ke seluruh tubuh jenazah dengan mengutamakan bagian kanan terlebih dahulu. Bisa sekali, 3 kali, 5, atau 7 kali sesuai kebutuhan.
  4. Untuk membersihkan bagian belakang, miringkan jenazah ke sisi yang berlawanan. 

Jika ingin membersihkan punggung belakang kanan, miringkan ke sisi kiri, dan sebaliknya.

  1. Siram lagi jenazah untuk penyempurna, terakhir siram dengan air yang sudah dicampur dengan kapur barus.
  2. Wudhukan jenazah dengan rukun wudhu yang dasar.
  3. Usap dengan handuk sampai kering. 

Jika mendapati mulut jenazah terbuka, ikat dagunya dengan menggunakan potongan kain.

  1. Sumpalkan kapas ke lubang-lubang pada tubuh jenazah (telinga, hidung, lubang kotoran).
  2. Berikan wewangian pada bagian tubuh yang normal diberi wewangian saat hidup. Jenazah siap dikafani.

Bolehkah jenazah tidak dimandikan? Boleh.

Ada beberapa jenazah yang tidak wajib dimandikan menurut syariat. Jenazah yang seperti apakah itu?

  1. Jenazah non-muslim.
  2. Orang yang mati syahid (meninggal dalam perang atau pertempuran membela agama Allah)
  3. Jenazah yang jasadnya tak lagi utuh atau dikhawatirkan tak utuh jika dimandikan. Contoh jenazah korban kecelakaan, kebakaran, atau bencana.
  4. Janin yang meninggal dan dikeluarkan sebelum usia kandungan 4 bulan.

Jika oleh beberapa sebab, jenazah tidak mungkin untuk dimandikan, ia dapat ditayammumkan. 

Kondisi apa sajakah itu?

  1. Sedang dalam kondisi tak ada air untuk memandikan di tempat tersebut.
  2. Dikhawatirkan jika jenazah kena air akan menjadi tidak utuh.
  3. Jenazah seorang perempuan yang berada di antara kaum lelaki, sedang tidak ada pula mahramnya di tempat tersebut.

Mengkafani Jenazah

Tahap pengurusan jenazah setelah memandikan adalah mengkafani.

Gunakan kain kafan berwarna putih dengan ketentuan untuk laki-laki 3 potong dan perempuan 5 potong. Biaya untuk kain kafan ini diambil dari harta si mayat, karena kedudukannya lebih penting bahkan daripada membayar hutang.

Bagaimana cara mengkafani jenazah laki-laki dan perempuan?

Untuk jenazah laki-laki, 3 lembar kain kafan dibentangkan sekaligus. Setiap lapisan diberikan wewangian yang tidak mengandung alkohol. Jenazah lalu dibaringkan di atasnya.

Tutup lubang telinga, hidung, dan ikat dagu jenazah jika belum. Setiap lapisan ditutupkan lalu diikat pada 3 – 5 tempat.

Untuk jenazah perempuan, jumlah kafan yang dibentangkan adalah 2 lembar dengan diberi wewangian setiap lapisnya. Jenazah lalu dibaringkan di atasnya.

Sisa 3 lembar kain digunakan sebagai sarung, kerudung, dan gamis. Setelah itu baru lapisan kafan ditutupkan dan diikat pada 3 – 5 tempat.

Mensolatkan Jenazah

Tahap pengurusan jenazah dengan benar setelah mengkafani adakan mensolatkan.

Sebelum solat jenazah dimulai, jenazah hendaknya diletakkan di depan imam dengan posisi imam tepat di bagian kepala jenazah. Sedangkan jika jenazah perempuan, posisi imam tepat di depan pusar jenazah.

Solat jenazah dilakukan secara berjama’ah, dipimpin seorang imam. Jumlah roka’atnya hanya 1, dengan empat kali takbir lalu salam, tanpa rukuk dan sujud.

Takbir ke-1 membaca alfatihah, takbir ke-2 membaca solawat sebagaimana ketika pada tahiyat akhir solat biasa. Takbir ke-3 dan ke-4, masing-masing diikuti dengan membaca doa untuk jenazah.

Do’a setelah takbir ke-3 berbunyi.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Sedangkan jika jenazahnya perempuan, lafadz “Hu” diubah menjadi “Haa” sehingga doanya menjadi.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَاوَارْحَمْهَاوَعَافِهَاوَاعْفُ عَنْهَا

Setelah takbir ke-4, membaca do’a.

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَاأَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّابَعْدَهُ وَ اغْفِرْ لَنَاوَلَهُ

Sedangkan jika jenazahnya perempuan, mengikuti kaidah pada doa sebelumnya, menggantikan lafadz “Hu” menjadi “Ha”.

Menguburkan Jenazah

Pengurusan Jenazah Sesuai Fiqih
Menguburkan jenazah. Sumber ibtimes.id

Proses melaksanakan pengurusan jenazah terakhir adalah menguburkan. Jenazah dianjurkan untuk dikubur secepatnya pada saat matahari masih terlihat. Kecuali jika ada sebab tertentu, boleh jenazah dikuburkan saat malam.

Panjang lubang kubur jenazah yang standar adalah 2 meter dan lebarnya 1 meter. Dengan kedalaman serupa orang mengacungkan tangan, atau antara 1,75 – 2 meter.

Lubang kubur wajib membujur sejajar dengan kiblat dan memiliki liang lahat di bagian bawah ke arah kiblat. Jika di Indonesia, berarti kuburannya membujur utara-selatan, dan liang lahat di sisi barat.

Setelah diturunkan dari Keranda, jenazah diletakkan di liang lahat dan dimiringkan dengan wajah menghadap ke arah kiblat. Kemudian tali ikatan atau biasa dikenal sebagai tali pocongnya dibuka.

Timbun jenazah dengan rapi dan rapat. Permukaan kuburan agar ditimbun dengan sedikit lebih tinggi dari muka tanah di sekitarnya.

Islam melarang untuk membangun bangunan di atas kuburan menjadi bangunan permanen dari semen dan sejenisnya.

Nah, demikian proses pengurusan jenazah dengan secara urut mulai dari memandikan, mengkafani, menyolatkan, dan menguburkan. Pengetahuan ini harus selalu dilestarikan di masyarakat karena pasti akan selalu dibutuhkan kapanpun dan dimanapun.

Jika DKM anda membutuhkan peralatan untuk kepengurusan jenazah. Kami adalah pusat alat kepengurusan jenazah nomor #1 dan terlengkap di Indonesia.

Syauqi Muhammad Najmi

Adalah seorang penulis di Rajane Keranda. Lulusan pondok yang terjun ke dunia digital marketing dan ingin membuktikan bahwa santri bisa jadi apapun. Yang terpenting jangan lupa berdakwah !

Leave a Reply