Mengubur Jenazah Dengan Peti. Bagaimana Hukumnya ?

Mengubur Jenazah Dengan Peti. Bagaimana Hukumnya ?

Akhir akhir ini karena adanya wabah virus Corona maka banyak prosesi pemakaman yang menggunakan peti mati untuk mengubur jenazahnya. Mengubur jenazah dengan peti mati dilakukan untuk jenazah yang terindikasi terkena paparan virus.  Namun sebenarnya bagaimana hukum mengubur jenazah dengan peti ?

Kebiasaan dari dulu sesuai dengan apa yang di contohkan oleh Rasulullah adalah penguburan dengan tanpa menggunakan peti. Kaum muslim yang meninggal hanya dibekali kain kafan untuk menutupi auratnya ketika di kebumikan. Sedangkan pada lubang kubur akan diberi kayu atau batu sebagai penahan agar jenazah tidak langsung tertimpa tanah dan ada ruangan.

Mengubur Jenazah Dengan Peti
Bolehkah mengubur jenazah dengan peti ? Source Unsplash

Mengubur Jenazah Dengan Peti

Sebenarnya apa yang sudah dicontohkana oleh Rasulullah dalam prosesi penguburan sudah jelas, yakni tidak diperkenankan menggunakan peti mati karena hal tersebut menyerupai atau bertasyabuh dengan kaum Nsrani. Namun jika ada hal tertentu yang mengharuskan menggunakan peti maka hukumnya bisa berubah.

Menurut Fatwa Lajnah Daimah

Dalam kumpulan Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan:

Tidak dikenal adanya kebiasaan mengubur mayit dengan peti di zaman Rasulullah dan para sahabat. Sedangkan prinsip hidup terbaik yang seharusnya ditempuh kaum muslimin adalah prinsip hidup mereka. Karena itu, dilarang mengubur mayit dengan peti. Baik tanahnya keras, biasa, atau mudah longsor. Jika mayit pernah berwasiat agar dia dikuburkan dengan peti maka wasiatnya tidak boleh ditunaikan.

Hanya saja, ulama syafi’iyah membolehkan menggunakan peti jika tanahnya berlumpur atau mudah longsor. Jika dia berwasiat, tidak boleh dilaksanakan, kecuali dalam kondisi seperti ini. (Fatawa Lajnah Daimah, 2:312)

Ibnu Qudamah mengatakan, “Tidak ada anjuran memakamkan mayit dengan peti. Karena tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari para sahabat. Disamping itu, perbuatan ini termasuk meniru kebiasaan orang sombong. Sementara tanah ini cukup kering untuk menampung jenazahnya. (Al-Mughni, 2:379)

Menurut Mazhab Syafi’i

1. Menurut Imam Asy-Syarbini Asy-Syafii

Imam Asy-Syarbini Asy-Syafii mengatakan :

Dilarang mengubur mayit dengan peti dengan sepakat ulama. Karena ini adalah perbuatan bid’ah, kecuali di tanah lembek atau berlumpur. Dalam kondisi ini tidak dilarang karena ada maslahat. Wasiat untuk mengubur dengan peti tidak boleh ditunaikan, kecuali untuk keadaan tanah tersebut. Keadaan yang sama adalah ketika jasad mayit rusak karena terbakar, sehingga jasadnya tidak bisa dibungkus kecuali dengan peti.” (Mughni Al-Muhtaj, 4:343)

2. Menurut Nadhlatul Ulama

Dalam rilis situs online Nadhlatul Ulama, mereka berpendapat bahwa mengubur mayit muslim dengan memasukkannya terlebih dahulu ke dalam peti, hukumnya adalah makruh sesuai pendapat mayorits ulama.

Namun ada beberapa keadaan yang mengharuskan penggunaan peti seperti:

  • tanah kuburan yang basah dan mudah gugur. Sehingga tidak mungkin digali terus menerus.
  • kondisi mayat yang sangat rapuh karena terbakar atau musibah lain.
  • banyak binatang buas yang dapat menggali tanah dan mayit bisa aman hanya apabila dimasukkan ke dalam peti.

Ketiga alasan itu masih bisa ditambah lagi jika memang keberadaannya sangat penting dan menghawatirkan si mayit.

Hal ini  sebagaimana dalam Nihayatl Muhtaj ila Syarhil Minhaj

” Dan dimakruhkan mdengubur mayit di dalam peti, dengan ijma’ ulama karena hal itu dinilai bid’ah. Kecuali pada bumi yang basah atau sangat lembek…maka tidaklah makruh mengubur mayit dengan peti pada tanah yang tersebut karena maslahah, walaupun mayit sendiri berwashiat demikian. Begitu juga apabila keadaan mayit sangat rapuhnya, karena tersengat atau terbakar yang tidak mungkin mayit bisa utuh kecuali dengan cara dipeti. Atau terkecuali mayat adalah perempuan dan tidak ada muhrim yang dapat menguburkannya sehingga yang tersisa adalah orang lain (yang tidak boleh menyentuhnya) maka mayit boleh dipeti. Dan terakhir jika dikhawatirkan adanya berbagai binatang buas yang menghawatirkan mayat.”

Penggunaan Keranda

Penggunaan keranda pada awalnya diinisiasi oleh Fatimah puteri Rasulullah. Ketika beliau sedang duduk duduk bersama Asma’ beliau melihat ada iring-iringan kaum muslim yang menguburkan jenazah seorang wanita dengan memanggul jenazah ketika dalam perjalanan mengantarkan jenazah menuju pekuburan. Fatimah  pada saat itu menangis.

Jenazah hanya dibelaki kafan. Source wajibbaca.com

Ternyata putri Rasulullah tidak berkenan jika jenazahnya dipanggul sewaktu ia meninggal kelak. Asma’ menghiburnya dengan mengatakan bahwa ketika Asma’ berada di negeri Habsyah, orang-orang yang menguburkan jenazah di sana menggunakan keranda untuk mengangkut jenazah.

Dan Asma’ juga mengatakan agar puteri Rasulullah menggunakan keranda untuk mengangkut jenazah ketika meninggal kelak. Fatimah pun memberi wasiat kepada Asma’ agar ia diangkut menggunakan keranda ketika ia meninggal.  

Untuk penggunaan keranda memang tidak dicontohlan di masa nabi, namun keranda di berlaukan penggunaannya ketika Fatimah wafat. Dan sampai saat ini di ikuti oleh sebagian kaum muslim. Bahkan harga keranda mayat yang digunakan bisa mahal dan tidak sederhana seperti jaman dulu.

Dalam menggali suatu hukum di dalam Islam memang diperlukan penguasaan keilmuan yang luas. Penggunaan peti  mati tidak bisa disamakan dengan penggunaan keranda mayat. Karena keduanya memiliki nilai yang berbeda selain itu penggunaan kedua jenis barang tersebut berbeda.

Jenazah yang hanya menggunakan kafan dan tanpa peti memberikan pelajaran kepada manusia bahwa ketika manusia mati, ia akan menghadap Tuhannya tidak membawa apapun yang diperolehnya di dunia. Dengan demikian manusia sebenarnya tidak layak menyombongkan apa-apa yang di dapatkan di dunia karena semua yang di dapatkan di dunia akan di tinggalkan ketika mati.  

Leave a Reply